Minggu, 20 April 2008

Tips Mengatasi dan Menghindari Masalah Tinta Yang Tidak Kering

Tinta cetak terkadang tidak cepat kering, masih lengket atau basah dalam waktu yang tidak biasanya.

1. Ganti tinta dengan yang tahan terhadap pengaruh air. Konsultasi dengan suplier tinta untuk dibuat formulasi baru seperti misalnya menambah body gum dan agen kimia pengering. Pada saat bersamaan atur setting dari roll cetak, bila perlu tambahkan alkohol pada larutan pembasah
2. Gunakan jumlah tinta yang sedikit, namun bersamaan harus konsultasi dengan suplier tinta bagaimana meningkatkan "ink strength" supaya waran cetak tetap - tidak melemah
3. Cegah segala kotoran mencemari roll pembasah
4. Periksa pH dan Conductivity atur pH sekitar 4.5 dengan plus minus 0.2, sementara conductivity tidak melebihi 1000 mhos dari angka asal saat pencampuran larutan
5. Gunakan "spray powder" pengering untuk mencegah kerta cetak lengket satu sama lain. Bila anda mencetak kertas coated, plastik, foil yaitu dimana permukaan material mempunyai porosity yang kecil, lebih aman menumpuk kertas cetakan dalam jumlah kecil misalnya setiap 20-30 cm
6. Gunakan dehumidifier - pengurang kelembapan udara misalnya;
- AC (air conditioner)
- jaga penggunaan air pembasah sesedikit mungkin
- tambah material pemicu pengering di larutan pembasah seperti alkohol
7. Kondisikan kertas dalam ruangan cetak sebelum dicetak paling tidak 24 jam, semakin lama semakin baik
8. Roll tinta dikondisikan sedemikan rupa jangan sampai ada yang aus, bila perlu diganti, dicuci bersih supaya roll dapat mentrasfer tinta dengan baik, supaya tinta terhindar dari emulsi dengan air
9. Bila perlu ganti kertas cetak dengan sifat porositas yang mampu menyerap tinta dengan baik. Gunakan tinta cetak yang sesuai dengan jenis kertas atau material cetak.

Masalah dan Penyebab
Masalah utamanya timbul akibat tinta terperangkap dalam air pembasah atau teremulsifikasi bersama.

1. Lapisan film tinta yang teralu tebal atau densitasnya terlalu tinggi
2. Roll pembasah tidak rata membuat distribusi terlalu banyak
3. Stock kertas kurang poros sehingga tinta kurang terserap
4. pH terlalu besar variasi dari nilai awal, lebih dari 0.2, dan atau pH terlalu asam
5. Conductivity terlalu tinggi lebih dari 1000 mhos dari nilai awal saat pencampuran larutan
6. Tinta bukan khusus untuk kertas yang dipakai. Suplier tinta mempunyai formulasi khusus untuk setiap bahan cetak
7. Sirkulasi udara ruangan cetak buruk, kurang kering atau terlalu lembab
8. Kertas terlalu dingin, dan kertas terlalu tinggi kadar airnya
9. Roll tinta cetak salah setting mengakibatkan tinta terlalu banyak terdistribusi atau terdistribusi tidak rata
10. Kandungan kimia pengering dalam tinta kurang


Klaim dan Investigasi
1. Kumpulkan kertas cetak dan kertas kosong paling tidak 12 lembar masing-masing
2. Catat rentang waktu saat tinta cetak masih basah dalam waktu yang tidak biasanya
3. Dibuat imprint dengan jari dari tinta cetak yang masih basah, kemudian imprint dipindahkan ke kertas atau plastik transparan sebagai bukti tinta masih basah dalam waktu yang tidak biasa tersebut
4. Kumpulkan tinta cetak dan larutan pembasah langsung dari mesin cetak dan disiman dalam botol kecil

Semua evidence bila perlu dibuat 2 set untuk suplier kertas dan tinta untuk analisa

Tips & Konsep Konversi Warna

Warna pada dasarnya merupakan bentukan 3 dimensi, sehingga disebut sebagai "color space". Untuk merepresentasi bentukan warna 3 dimensi ini dibutuhkan 3 sumbu, bisa RGB, CMY, Lab, HLS, dll. Kemampuan mata melihat memiliki gamut warna yang paling besar, kemudian RGB lebih kecil dan CMY lebih kecil lagi sehingga saat mengkonversi warna ke RGB dan CMY akan terlihat agak kusam (baca: tampilan di monitor).

Tetapi ada warna2 yang ada di CMY yang tidak bisa direpresentasi RGB dengan akurat misalnya warna yellow 100%, cyan 100% dan magenta 100%. Sebaliknya ada cukup banyak warna2 RGB yang TIDAK AKAN pernah ditampilkan dengan akurat misalnya ungu, hijau menyala, dll.

CMYK vs RGB
CMY atau CMYK adalah model warna penintaan (substractive color mode), warna2 primernya (Cyan, Magenta, Yellow, BlacK) tergantung pada pigment pada tinta & substrate yang dicetak. Sebagai catatan, printer dan cetakan hanya merupakan "output devices".

RGB adalah model warna pencahayaan (additive color mode) dipakai untuk "input devices" seperti scanner maupun "output devices" seperti display monitor, warna2 primernya (Red, Blue, Green) tergantung pada teknologi alat yang dipakai seperti CCD atau PMT pada scanner atau digital camera, CRT atau LCD pada display monitor.

Kedua model warna CMYK maupun RGB adalah tidak "merdeka", artinya CMYK tergantung pada proses cetak, pigment, substrate & sedangkan RGB tergantung pada kapasitas teknologi peralatan yang dipakai; artinya kalau kita mempunyai data warna R 180, maka pada 2 monitor yang berbeda kita mendapatkan persepsi yang berbeda pula, karena sangat sulit untuk menstimulasikan 2 monitor yang berbeda - apalagi kalau teknologi yang dipakai berbeda pula.

Karena pemanfaatan RGB itu biasanya dikontrol oleh pabrik alat, maka relatif lebih mudah bagi tim riset dan pengembangan pabrik alat tersebut untuk meningkatkan kemampuan alatnya agar dapat mencapai mutu yang tinggi dengan toleransi yang rendah.

Lain halnya dengan model warna CMYK ,khusus untuk cetak konventional, tinta diproduksi oleh pabrik tinta dan dicetak oleh percetakan menggunakan barbagai macam kertas. Proses reproduksi warna dilakukan dengan berbagai macam parameter, dan hasilnya pun dibawa kemana-mana untuk evaluasi -yang sering dibawah kondisi penerangan yang berbeda-beda - masalah metameri - sehingga menimbulkan banyak silang pendapat.

UCR vs GCR
Secara teoritis menggabungkan warna red, green dan blue dalam jumlah sama akan menghasilkan abu2 netral, sehingga red 50%, green 50% dan blue 50% bisa digantikan hanya oleh tinta black 50%. Photoshop mengenal UCR (Under Color Removal) dan GCR (Gray Component Replacement), artinya pada UCR hanya warna-warna shadow yang digantikan oleh tinta hitam, sedang pada GCR sejak dari warna abu-abu sudah akan digantikan oleh tinta hitam. Default Photoshop adalah GCR Medium.

UCR maupun GCR digunakan oleh Photoshop sebagai parameter apabila kita hendak mengkonversi RGB ke CMYK. Mempelajari lebih lanjut penggunaan UCR maupun CGR tergantung pada proses cetak, sehingga kita mendapatkan parameter yang paling sesuai dengan cetakan.

Saya mempunyai trik mengkonversi 1 gambar dengan 2 macam proses konversi; (1) biasanya saya pilih text hitam dan mengkonversi ke CMYK dengan Black Maximum, lalu (2) hasil Black tersebut kita "merge" ke hasil konversi gambar lainnya, sehingga text akan muncul 100%K overprint, tidak bolong. Hanya perlu diingat pada perhitungan GCR tidak berlaku 50%C + 50%M + 50%Y = grey, disini Photoshop menggunakan parameter standard tinta international (ISO dll.). Oleh karenanya, bila tinta yang kita gunakan tidak standard, maka konversi RGB ke CMYK menjadi issue yang ramai. Dengan kata lain, tidak ada satu solusi yang dapat memecahkan problem tersebut, mengingat banyak faktor yang tidak terukur atau standar.

Tips Konnversi
Jadi secara sederhana jangan harapkan warna RGB akan dikonversi sempurna ke CMYK. Tetapi perlu diingat bahwa warna adalah tampil dalam konteksnya, sehingga pada kebanyakan problem sesungguhnya bukanlah warna RGB tidak bisa dikonversi dengan baik, tetapi warna terlihat kusam karena impuritas warna.

Logikanya demikian, warna CMYK yang terdiri atas lebih dari 2 channel akan tampil kusam. Contoh magenta 100% yellow 100% akan tampil sebagai warna merah yang pekat, tetapi menggunakan magenta 100% yellow 100% dan cyan 10% akan memberikan kesan kusam.

Jadi untuk menghindari warna tampil kurang bagus atau kusam, caranya adalah setelah mengkonversi ke CMYK, tambahkan saturasi kira2 10-20 dengan fungsi Image>Adjust>Hue/Saturation (Ctrl/Cmd + U)

Tidak ada yang salah dengan konversi RGB ke CMYK di Photoshop. Yang menjadi masalah adalah kurangnya pengetahuan kita tentang warna.

Tips:
1. Simpanlah data warna original dan jangan mengkonversi warna jika tidak dibutuhkan, baik Lab --> RBG --> CMYK ataupun sebaliknya.
2. Konversi warna hanya digunakan pada saat terakhir, apabila kita akan membuat film separasi atau CTP.
3. Gunakan model data CMYK sebagai input untuk membuat Digital Proofing, jadi mohon maaf jangan membuat Digital Proofing kalau kita tidak tahu mau diapakan gambarnya. Target Profile harus jelas sekali, dan proses konversi RGB ke CMYK harus "identical" untuk digital proofing maupun pembuatan film separasi atau CTP, kemudian baru lakukan software proofing seperti dengan GMG, EFI, ORIS dll. untuk mengkonversi CMYKtarget ke CMYKproof.

"Mapping" Color Management
Dalam Color Management saat melakukan konversi RGB ke CMYK standar Photoshop, maka diperhitungkan gamut dari perangkat output saat melakukan "mapping" warna dari RGB ke CMYK. Kelebihannya adalah semua warna RGB akan dicoba "mapping" ke CMYK dan tidak ada warna yang cenderung flat karena di luar gamut. Kekurangannya adalah jika gambar asli tidak dikoreksi dengan optimal hasilnya malah akan cenderung kusam. Oleh karena itu saat menggunakan color management terdapat "rendering intent" yang berbeda-beda, jika anda mengkonversi gambar kartun, foto atau ilustrasi. Sebagai catatan, biasanya warna kartun adalah warna pastel, sebaiknya dalam GCR menggunakan Black minimum, kecuali skets hitamnya.

Bit Depth
Metafora bit depth adalah mainan LEGO. Perbedaan Lego orang dewasa dan anak kecil adalah lego orang dewasa berukuran kecil. Untuk merepresentasi bentukan color space 3 dimensi dari warna bayangkan kita ingin membuat bola dengan lego untuk orang dewasa dan anak kecil. Bola yang dibuat dengan lego orang dewasa akan menghasilkan transisi bola yang lebih halus.

Bekerja dengan bit depth tinggi akan memberikan kemungkinan hasil akhir yang lebih baik. Tetapi pada kebanyakan gambar hal ini tidak akan banyak berpengaruh. Bit depth tinggi sangat diperlukan untuk kondisi koreksi yang ekstrim atau kondisi gambar tidak ideal.

Raw
Raw komparasinya adalah film negative sehingga color spacenya lebih besar dari TIFF maupun JPG. TIFF dan JPG komparasinya adalah slide positif, artinya "what you see is what you get." Sedang dengan RAW, kita menyimpan data secara lengkap sehingga ketika dibuka bisa dipilih seperti halnya kita mencetak film negatif bisa dipilih lebih terang/gelap, diatur warnanya.

Memilih film negatif dan slide positif tidak ada benar dan salah, yang ada
tinggal preferensi fotografer.

MAC atau PC?
Semua representasi warna secara matematis di PC dan Mac adalah SAMA. Masalah utama adalah representasi visual, bukan file aslinya. Jadi bekerja dengan Mac dan PC BISA MENGHASILKAN OUTPUT YANG SAMA.

Keuntungan menggunakan Mac adalah monitor Mac secara default sudah dirancang untuk memiliki gamma (baca:kontras dan gelap terang) seperti kertas di mana warna putih tidak terlalu putih dan warna gelap tidak terlalu pekat. Sedang monitor PC secara default disimulasikan untuk kondisi elektronik seperti televisi yang kontras jauh lebih tinggi. Oleh karena warna yang sama akan tampil di monitor PC lebih kontras dan lebih gelap dibanding ditampilkan di monitor Mac.

Solusinya adalah melakukan kalibarasi sederhana menggunakan Adobe Gamma yang ada di Control Panel di mana monitor PC dikalibrasi menggunakan gamma 1.8, bukan 2.2 yang merupakan default dari monitor PC.

Memaksakan display monitor dengan cetakan adalah investasi yang besar sekali, mungkin banyak yang tidak setuju dengan saya dalam hal ini. Kepercayaan berlebihan terhadap display monitor (Soft proofing) dapat menimbulkan masalah karena SDM kurang paham & mengandalkan supplier untuk mengkalibrasi monitor dan perlu diingat jarang sekali color monitor yang dapat mengukur temperatur warna secara otomatis, jadi penggunaan Gamma tidak menjamin kalibrasi monitor berfungsi sempurna.

Perhitungan Investasi Mesin Mini Offset

Yang pertama kali orang banyak tanyakan ketika akan membuka sebuah percetakan adalah berapa biaya dan biaya apa saja yang dibutuhkan untuk mendapatkan harga pokok sebuah order atau cetakan, sebagai insan grafika saya akan sedikit membantu memberikan informasi. Untuk tulisan pertama saya ini bagaimana mengetahui / menghitung biaya sebuah mesin cetak, dan selanjutnya bagaimana menghitung biaya dari mulai persiapan (desain / setting / film / plate), produksi (cetak / varnish / laminating), Finishing (penjilidan / packing dll), hingga kepada menghitung biaya pokok produksi sebuah majalah.

Mesin Mini Offset disini mengacu kepada mesin cetak Toko Gronhi 860 yang mempunyai spesifikasi unit cetak 1 warna dengan ukuran kertas maksimum A3, 297 x 420 mm. Umumnya dengan mesin inilah orang biasanya memulai bisnis percetakan kecuali orang yang bermodal besar bisa memulai dengan mesin buatan Eropa, Jepang dan lainnya.

Investasi Mesin
Total awal investasi alat dan pemasangan adalah Rp.45.000.000,-. Perkiraan umur mesin untuk perhitungan depresiasi adalah 10 tahun. Untuk perhitungan jam produksi dalam satu tahun diambil angka sebesar 1500 jam, dengan kecepatan cetak mesin rata-rata adalah 4000 lembar/jam.

Biaya operasional
Secara garis besar total biaya operasional kurang lebih hampir sama dengan nilai mesin cetak yaitu Rp. 44.467.662,- yang dirici sebagai berikut;

1. Kebutuhan tempat
Diperlukan tempat kurang lebih 4 x 6 meter, bisa juga 3 x 3 m bila dipaksakan, biaya tempat Rp.500.000,-/bulan atau Rp. 6.000.000,- pertahun.

2. Gaji operator cetak
Gaji operator cetak sebesar Rp.1.200.000,- per bulan atau Rp. 14. 400.000,- pertahun , serta gaji staff teknisi kurang lebih 10% dari besar gaji cetak operator atau Rp. 1.440.000,-. Tentunya biaya gaji tergantung dengan pengalaman, tingkat keahlian operator cetak dan daerah dimana investasi berlangsung.

3. Spare-part dan material,
Pemakaian alat dan material diperkirakan Rp.350.000,-/bulan atau Rp. 4.500.000,- pertahun.,-

4. Air dan listrik
Air adalah bagian tidak terpisahkan dari proses cetak offset dimana diperlukan untuk mencampur larutan pembasah. Pemakaian air Rp.75.000,-/bulan atau Rp. 900.000. Pemakaian listrik sebesar 350 watt dengan Rp.500,-/KWH untuk total 1500 jam selama setahun adalah Rp. 262.500,- (0.350 x Rp.500 x 1500 jam).

5. Perawatan mesin
Biaya perawatan dan reparasi diambil angka 2% dari biaya mesin cetak atau Rp. 900.000,- / bulan. Kegiatan perawatan mesin cetak sangat kritis dan diperlukan untuk menjaga mutu kualitas cetak dan keawetan mesin, dimana setiap minggu mesin diganti air pembasahnya dan setiap bulan mesin diperiksa apakah ada bagian aus atau diberi minyak pelumas.

6. Biaya modal
Bunga Modal yang di Investasikan12% dari mesin cetak atau sebesar dari nilai investasi mesin cetak, 12% x ½ x Rp. 45.000.000,- atau $2.700.000,-

7. Biaya tak langsung
Biaya perusahaan tidak langsung, berkaitan dengan resiko produksi sebanyak 10% dari total jumlah biaya ke 6 rinacian diatas, 10% x Rp. 35.302.500 atau sebesar Rp. 3.530.250,-

8. Biaya umum
Biaya umum berkaitan dengan resiko penjualan sebanyak sebanyak 15% dari total jumlah biaya ke 7 rincian diatas, 15% x Rp.38.832.750,- atau sebesar Rp. 5.824.912,-

Tarif mesin per jam
Untuk menghitung biaya tarif mesin per jam, maka total biaya operasional dibagi total jam produktif yaitu 1500 jam, Rp.44.657.662,- /1500 jam atau sama dengan Rp.29.771 per jam. Biaya ini diperlukan bagi anda untuk meninjau atau melihat seberapa efisien mesin cetak atau keunggulan biaya cetak dibanding dengan mesin cetak yang sejenis dalam 1 jam cetak.

Biaya 1 lintasan
Dengan mengambil kecepatan mesin cetak rata-rata sebesar 4000 lembar per jam, maka anda bisa menghitung berapa biaya cetak perlembar untuk setiap naik cetak, formulanya adalah tarif mesin dibagi dengan kecepatan mesin cetak rata-rata, Rp.29.771,-/4000 =Rp.7,4 per naik cetak. (tujuh koma empat rupiah).

Mesin cetak 1 warna dan multiple warna
(Redaksi kertasgrafis.com) Investasi mesin cetak 1 warna dan multiple warna sangat tergantung dari jenis pekerjaan cetak atau order yang akan dibidik oleh investor. Operator mesin cetak 1 warna harus naik cetak 2 kali bila harus menyelesaikan order dengan 2 warna untuk satu sisi, bila cetakannya 2 warna setiap sisi kertas maka harus naik cetak 4 kali, demikian seterusnya bila order yang diterima lebih dari 1 warna untuk setiap sisi. Tentunya banyak pekerjaan cetak yang hanya 1 warna setiap sisi seperti cetakan buku yang umumnya berupa tulisan atau gambar hitam putih.

Semakin banyak naik cetak tentunya waktu, tenaga dan biaya akan semakin besar atau meningkat. Dengan kata lain tingkat produktifitas adan efisiensi akan rendah dibanding dengan mesin cetak dua warna apabila harus mencetak order 2 warna setiap sisi, diasumsikan dengan kecepatan cetak yang sama. Secara teori ada jumlah minimum cetakan dimana mesin cetak 1 warna dan 2 warna mempunyai biaya cetak yang sama, dikarenakan nilai investasi mesin cetak lebih mahal dibanding dengan mesin cetak 1 warna.

Tips Mencari Mesin Cetak Offset yang Cocok

Bagi pebisnis dan professional yang sedang membangun bisnis percetakan, keputusan membeli mesin cetak offset adalah sangat penting dan kritis. Mesin cetak menjadi mesin utama dalam rantai produksi apabila spesifikasi mesin dan pangsa pasar yang dibidik tidak sesuai satu sama lain akan menyebabkan produktifitas dan efisiensi yang buruk dan rendah. Sebagai pemilik bisnis, maka bisnis percetakan bisa merugi. Profesional sendiri perlu melengkapi pengetahuan dasar dalam membantu perusahaan dan pemilik dalam menentukan mesin cetak yang sesuai, paling tidak mereka dapat berkomunikasi secara lancar dan terarah dengan supplier mesin cetak offset yang berusaha menawarkan produknya.

Tips dibawah ini baku dan mendasar, modifikasi dan spesifikasi detil selanjutnya dapat dikembangkan pada saat anda berkomunikasi dengan supplier mesin cetak anda.

Pangsa pasar cetak offset
Sebelum membeli, perlu tahu dulu apa segmen cetaknya, secara umum mesin cetak offset banyak digunakan dalam "commercial printing"; seperti cetakan pamflet, brosur, booklet, dan majalah. Garis besarnya segala bentuk cetak untuk keperluan commercial dimana pelanggannya yaitu perusahaan yang mau promosi, berjualan dengan material cetakan, atau bahkan perusahaan iklan. Ada 2 tipe utama, pertama mesin cetak offset lembaran (sheetfed press offset) yaitu mesin cetak offset dengan input kertas potong / plano. (lawannya roll yang menggunakan mesin web press offset), kedua mesin cetak roll (web ofsett) yaitu mensin cetak offset dengan input kertas gelondongan (roll).

Mesin cetak offset lembaran umumnya digunakan untuk pekerjaan cetak dengan jumlah cetak yang rendah sampai menengah. Dalam jumlah cetak mulai dari 1000 lembar sampai dengan 100,000-an lembar. Mesin cetak offset roll (bisa dipecah menjadi dua Heat Set Web Offset – HSWO biasanya untuk cetak majalah dengan kertas Artpaper/coated paper dan Cold Web Offset –biasanya untuk kertas Koran atau uncoated) umumnya untuk jumlah cetakan yang besar sebab penggunaan mesin cetak offset lembaran menjadi tidak ekonomis, jumlah cetak bisa ratusan ribu lembar sampai dengan jutaan lembar.

Pasar vs Keuangan
Kalau pelanggan yang ditarget besar (apalagi captive customer; pelanggan sudah ditangan dan siap kasih order kapan saja) dan keuangan besar, jangan segan mencari mesin besar dan baru dengan kapasitas besar toh dana keuangan perusahaan besar. Mesin baru mempunyai produktifitas dan efisiensi tinggi dan jaminan purna jual. Namun kalau pelanggannya relatif kecil, taraf penjajakan dan keuangan juga relatif rendah maka banyak orang melihat alternatif mesin bekas (yang kriterianya juga banyak, ada "as is"- apa adanya, "refurbish" - diperbaiki sana sini, dan "rebuilt" - dimanufaktur ulang dengan rangka yang sama dan sparepart baru, jadi seperti mesin baru yang dilengakapi umumnya dengan warranty sparepart bila ada yang rusak).

Spesifikasi mesin vs Riset order cetak
- Kecepatan; semakin cepat semakin besar produktifitas (6000, 8000, 10,000 atau bahkan 15,000 ph - sheets per hour), kalau webpress pakai fpm atau mpm (feet per minute atau meter perminute).

- Lebar; ada yang 18", 20", 22", 24", 26", 28", 40" dll. (1 inch -2.54 cm), pemilihan lebar harus disesuaikan dengan jenis pekerjaan cetak yang bakal banyak digarap, jangan kekecilan dan kebesaran sebab tingkat efisiensi akan rendah. Perlu konsultasi dengan pelanggan, tenaga sales, dan supplier.

- Jumlah unit warna, ada 2, 4, 5, 6 bahkan 8 (untuk yang jumlahnya banyak 5 keatas ada yang disebut "perfector", sekali jalan bisa langsung bolak balik). Pemilihan jumlah unit warna bersandarkan pada produkfitas, efisiensi dan keuangan perusahaan. Mesin perfektor mempunyai efisiensi tinggi tapi mahal namun bisa cetak masing-masing 4 warna atas dan bawah dengan sekali naik cetak. Sedangkan mesin 2 warna (straight) murah tapi pekerjaan buruhnya banyak; bisa 4 kali naik cetak untuk perbandingan dengan perector 8 warna. Konsultasi dengan pelanggan dan tenaga sales; apa sih jenis cetakan yang bakal dijual? Bikin brosur 2 warna yang banyak tulisannya dan hanya pakai HVS, beli yang murah meriah 2 warna saja. Tapi kalau mau buat brosur, iklan dengan separasi 4 warna dan kertas art paper yang mengkilap, pertimbangkan beli paling tidak 4 warna.

- Unit Tambahan; bila job dan pelangagannya "high end" perlu pertimbangkan unit ke 5 untuk warna khusus bahkan sudah sangat standard diluar negri untuk mempunyai unit "Aqueous Coating" (penting untuk buat kertas jadi lebih kilap dan proteksi cetakan supaya tahan goresan, air dan minyak). Mahal sedikit, tapi siap untuk masuk kepasar yang lebih tinggi dan profit lebih besar.

"Break even point"
Minta supplier untuk membuat kalkulasi BEP. Dari proposal dan BEP, anda minta dibuat presentasi dimana lakukan kesempatan sesi tanya jawab tentang berbagai hal baik teknis dan komersil. Jangan takut untuk bertanya banyak mengingat harga barang yang anda beli bisa mulai dari puluhan juta rupiah bisa sampai ratusan dan bahkan milyaran rupiah. Investasi yang anda lakukan besar sehingga pantas untuk menginvestasi waktu, pikiran dan tenaga dalam proses memilih dan membeli.

Informasi Mesin Cetak Offset dan Mesin Potong untuk Ukuran Cetak Poster.

Mesin cetak offset untuk ukuran poster mempunyai beberapa spesifikasi umum yang ditemukan dalam industri. Data dan informasi dibawah ini sangat bermanfaat bagi anda pebisnis dan professional yang bergelut disegmen cetak poster bila bermaksud mengembangkan bisnis anda saat ini. Secara khusus diberikan harga informasi mesin cetak offset bekas yang harganya menarik untuk dilirik dan relative terjangkau.

Ukuran Mesin Cetak
Pemilihan mesin cetak offset biasanya yang ditentukan adalah ukuran mesin,
dibawah ini beberapa ukuran mesin yang banyak dipakai, dengan asumsi poster yang akan dicetak ukurannya maksimum diantara 700x500mm.

- Ukuran 720 x 520, mesin : Heidelberg SORM, Komori, SakuraiOliver72,
- Heidelberg MO (65 x 48), Komori Sprint26 (640x460), Oliver66 (66 x 46),
- Sakurai Oliver 580x440 (hanya Oliver yang ada ukuran ini, dan sangat
digemari/ populer)
- Ukuran 520 x 360mm : GTO52, Sakurai Oliver52, Ryobi 520

Menentukan jumlah warna
Pemilihan jumlah warna ditentukan oleh besarnya tempat yang tersedia dan
tentu alokasi budget yang ditetapkan. Jika akan memulai dengan mesin 2 warna
cukup ideal, jika 1 warna untuk mencetak poster yang umumnya full colors
(4 warna) maka mengulang 4 kali naik cetak. Tentu jika mesin 4 warna tentu lebih baik dengan catatan harga mesin jauh lebih mahal.

Dampening System pembasuh Air atau campuran Alcohol
Mesin kecil masih banyak yang masih memakai sistim pembasuh air, dimana
biaya operasi lebih murah tidak perlu beli alcohol, cukup fountain solution,
tetapi setiap ganti tinta harus mencuci Moleton pada rol air (Sleeve roller
/ selongsong handuk) sampai bersih.

Sedangkan sistem Alcohol Dampening menggunakan Rol Karet ke Plate tidak
memakai selongsong handuk, tetap memakai air, hanya menggunakan campuran Alcohol (IPA) pada fountain solution dengan hasil cetakan raster lebih tajam.

Perkiraan harga mesin (bekas)
Saya menuliskan pekiraan harga, karena memang sulit mengetahui harga aktual
dipasaran:
1 warna Sakurai Oliver 58, perkiraan Rp. 200-220 Juta
1 warna Sakurai Oliver72, perkiraan Rp. 250-300 Juta
1 warna Ryobi520, perkiraan Rp. 150 Juta

1 warna Heidelberg SORM, thn. 85-90 perkiraan Rp. 350-400
1 warna Komori Sprint26, pekiraan Rp. 250
2 warna Komori Sprint26, perkiraan Rp. 300-500 Juta

2 warna Heidelberg SORMZ, thn. 85-90 perkiraan Rp. 450 - 900 Juta
2 warna Heidelberg GTOZ52, thn. 85-90perkiraan Rp. 275 - 400
2 warna Sakurai Oliver 258, thn 87- 95 perkiraan Rp.350 - 500 Juta
2 warna Sakurai Oliver 272, 88-90 thn perkiraan Rp. 400 - 800 Juta

Mesin potong
Jika tempat anda memadai, sebaiknya memakai mesin potong ukuran standard 115 cm atau 100 cm, karena ukuran kerta plano 100x650mm.
Harga mesin baru buatan China (dengan computer / program) antara Rp. 200 -250 juta tergantung mutu dan merek. Sedangkan yang bekas Jepang / Jerman diantara Rp. 150-170 juta (tergantung tahun).
Ukuran 92 cm atau 70 cm, atau 55 cm harga mesin sekitar Rp. 50-100 jutaan.

Harga meamang cukup penting dalam membuat keputusan, dan harga mesin bekas tidak ada harga pasar yang "absolute" dan namun cukup memberi gambaran yang ada dipasar saat ini.

Menguak Kerancuan Seputar Cetak UV; Perbedaan Tinta UV dan Tinta Biasa

Sering terjadi kerancuan penggunaan dan pemahaman istilah UV dalam industri cetak, UV sendiri adalah singkatan dari Ultra Violet. Anda mungkin mempunyai pengalaman, ternyata UV yang dimaksud oleh seseorang ternyata berbeda dengan UV yang dikemukakan secara harfiah. Ada beberapa kemungkinan interpretasi UV dalam dunia cetak sehari-hari seperti (1) cetak menggunakan tinta yang tahan terhadap sinar ultra violet dari cahaya matahari, (2) tinta cetak yang berpendar saat ditimpa “black light” – lampu ultra violet, (3) tinta cetak yang digunakan bersama dengan UV Coated dan (4) tinta cetak yang kering atau “matang” dengan bantuan lampu ultra violet.

Artian keeempat lebih relevan disebut tinta UV, dimana percetakan menggunakan “UV curing inks” dalam mencetak. Proses UV curing melibatkan polimerisasi atau cross linking dari monomer saat tinta cetak ditimpa sinar ultra violet. Monomer UV mempunyai sensitizer yang menyerap energi sinar UV yang kemudian memicu proses polimerisasi pada monomer. Artikel ini selanjutnya akan menekankan perihal tinta UV.

Tantangan mencetak tinta UV
Mencetak tinta UV, ada banyak aspek yang bisa membuat anda kelabakan dalam memilih kombinasi yang sesuai satu sama lainnya antara jenis tinta terhadap jenis kertas, alat curing dan beragam jenis lampu UV. Mereka semuanya mempunyai spesifikasi dan sifat yang berbeda satu sama lain dan mempunyai keunggulan masing-masing untuk kombinasi yang berbeda. Terlepas dari kelengakapan informasi dari masing-masing supplier atas komponen, maka proses pengalaman dan proses coba-coba diatas mesin banyak memberi pemahaman bagaimana mencetak dengan hasil yang terbaik.

Perbedaan Komposisi Tinta UV dan Tinta Biasa
Terlepas dari usaha coba-coba diatas mesin cetak, maka memahami proses dan material tinta UV akan sangat banyak membantu mengurangi waktu dan biaya. Komponen utama dari tinta biasa adalah resin, pigment/additives dan solvent (pelarut), sementara komponen tinta UV adalah resin, pigment/additives dan monomer. Terlihat jelas disini yang membedakan adal material monomer pada tinta UV, 2 komponen utama lainnya adalah relatif sama.

Resin adalah material pertama yang mempunyai sifat rekat dan fleksibel. Solvent pada tinta biasa dan monomer pada tinta UV berfungsi untuk melarutkan atau memotong resin dan pigmen didalam formula tinta untuk mendapatkan suatu kekentalan yang diinginkan. Solvent dan monomer bekerja bersama-sama dengan resin dalam membentuk ciri kinerja pengeringan dan pematangan lapisan tinta. Material yang terakhir adala serangkaian aditif atau bahan-bahan kimia penambah pigmen untuk warna, flow agents, serbuk pengental (thickening powders), retarders untuk tinta biasa dan catalyst. Untuk tinta UV, catalyst adalah sensitizers atau photoinitiators.

Mekanisme Photoinitaitors
Photoinitiators memicu reaksi yang membuat monomers dan resin bersatu dan mematangkan lapisan tinta. Photo mengacu pada kata cahaya atau sinar, dan initiate berarti memicu. Photoinitiators menyerap energi UV pada panjang gelombang tertentu yang kemudian menyebabkan “free radicals”. Free radicals, dalam proses kimia berarti suatu materi yang sangat reaktif, menghubungkan molekul resins dan monomers, kemudian mereka bersama-sama bersilang kait satu sama lain, membentuk rantai molekul yang umum kita sebut sebagai lapisan tinta yang matang (cured ink film). Ahli kimia menyebut reaksi silang kait ini (cross linking) sebagao polimerisasi.

Tinta UV disebut 100% solid sebab hampir semua yang ada di kandungannya dgunakan habis dalam proses polimerisasi. Sementara tinta biasa tidak demikian, pelarut atau solvents menguap dan lapisan tinta yang kering hanya mengandung sisa penguapann.

Keuntungan Tinta UV
Salah satu keuntungan menonjol dari tinta UV terhadap tinta biasa adalah tidak adanya VOC (volatile organic compounds) dilepas keudara selama proses pengeringan. Sementara tinta biasa akan melepas VOC keudara bersamaan dengan menguapnya pelarut.

Cepatnya proses pengeringan atau pematangan tinta UV adalah keunggulan kedua disebabkan oleh proses polimerisasi yang jauh lebih cepat dibanding pengeringan pada tinta biasa, bahkan dalam ruang relative lebih sempit bila dibandingkan dengan sistim pengering oven. Kertas cetakan dapat langsung diproses lanjut seperti potong dan lipat setelah terkena proses pengeringan lampu UV. Lampu UV ditempatkan diantara stasiun cetak dari mesin cetak multi warna, sehingga setiap warna akan kering sebelum masuk ke stasiun cetak berikutnya. Hal ini tentu akan mengurangi terjadinya "color bleed" (warna blobor) dan goresan atau bekas gesekan diatas permukaan cetak.

Keunggulan terakhir, tanpa adanya pelarut di tinta UV, memungkinkan operator mencetak detail gambar lebih tajam dan halus dengan resolusi yang lebih tinggi, hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan higher mesh counts pada screening process di prepress.

Konsep dan Mekanisme Unit UV-curing
nit pengeringan UV sangat kritis dalam cetak UV. Unit pengeing ini berfungsi mentransfer energi ultra violet untuk memicu photoinitiators dan memulai proses polimerisasi.

Energi elektromagnetik mempunyai partikel gelombang listrik dan magnet yang berjalan diudara, ruang hampa dan material lainnya. Kita mencirikan gelombang ini dari frekuensinya (jumlah panjang gelombang dalam 1 detik) dan panjang gelombang (jarak dari satu paruh gelombang ke paruh gelombang yang berdekatan). Frekuensi diukur dengan gigahertz (Ghz) dimana 1 Ghz sama dengan 1 milyar siklus/detik. Panjang gelombang diukur dengan nanometers (nm) dan 1 nm sama dengan 1/milyar meter. Spektrum elektromagnetik adal suatu rentang gelombang elektromganetic, yang semuanya kecuali cahaya warna yang tampak, tidak dapat dilihat oleh mata.

Dalam spekttrum warna yang mendekati cahaya tampak, kita dapat mengidentifikasikan panjang gelombang UV dimana rentang panjang gelombangnya adalah 10 – 400 nm. Photoinitoators yang digunakan pada tinta UV khususnya bereaksi dengan dalam panjang gelombang antara 200 – 400 nm. Namun demikian, panjang gelombang yang mengakibatkan proses pengeringan atau pematangan berbeda antara sistim tinta satu dengan lainnya, tergantung dengan aplikasi tinta yang dibuat. Oleh sebab itu, kita menemukan banyak sistim UV-curing mempunyai tipe lampu berbeda yang mengeluarkan frekuensi energi UV tertentu.

Persaingan Harga Cetakan; Situasi dan studi kasus “buyers market” di Jakarta

Oleh : Iis superiadi, AMd.Graf
Bisnis Percetakan adalah sebuah bisnis yang tidak pernah surut, bahkan setiap tahunnya selalu bertambah saja di Indonesia, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6.5% pertahun maka dapat dipastikan kebutuhan cetak tumbuh seiring.

Adalah sebuah kenyataan bahwa sekarang harga sebuah barang cetakan semakin bersaing, sebagai contoh saja ketika penulis masih kuliah di Akademi Teknologi Grafika Trisakti sekitar tahun 1995, kita dapat menghargai sebuah cetakan dengan profit yang kita dapatkan bisa sampai 50% (bahkan ketika ada kesalahan cetakan sehingga harus dicetak ulang masih belum rugi), tapi sekarang profit 20% saja rasanya berat, karena ada yang berani lebih murah dari kita dan begitu seterusnya,atau bahkan kita jual dengan harga pokok saja asalkan mesin-mesin produksi kita dapat berjalan. Kalau kondisinya berlanjut maka banyak percetakan yang tidak dapat bertahan.

Contoh kasus
Apakah situasi "buyers market" telah benar terjadi? dimana suplai cetak lebih banyak dan pembeli mempunyai banyak pilihan dan harga terus menurun. Dikawasan Kalibaru Jakarta Pusat yang merupakan sentra bisnis percetakan terbesar di Jakarta, persaingan cetakan sangat tinggi, bahkan sampai tidak sehat. Untuk mengejar target produksi bahkan harus banting harga, berapapun harga yang kita berikan pasti ada saja yang lebih murah dari kita. Bahkan yang lebih tragis lagi kalau dahulu kita yang memberikan harga cetakan setelah kita kalkulasi, tapi sekarang justru berbalik pelangganlah yang mengajukan harga kepercetakan, dengan harga sekian sebuah percetakan ditantang kemampuannya menerima order. Tidak jarang diberi tekanan bahwa percetakan sebelah sanggup melakukan harga yang sekian tersebut.

Apakah saat ini sudah terjadi “buyer market” untuk industri percetakan, dimana pembeli mempunyai posisi tawar yang kuat dibanding penjual?. Jawabannya mungkin dapat ditinjau dari beberapa faktor dibawah ini, dengan memahami posisi dan siatuasi bisnis usaha cetak anda maka anda dapat keluar dari jeratan persaingan keras yang terjadi dalam bisnis apa saja.

Faktor persaingan
Ada beberapa hal yang menyebabkan timbulnya persaingan harga:

1.Bertambahnya jumlah perusahaan percetakan.Ini mungkin yang paling kita rasakan betapa persaingan harga tidak bisa terhindarkan,apalagi sekarang toko kertas banyak yang mempunyai unit percetakan.Bahkan bagi pemodal besar sudah melengkapi unit-unit produksinya untuk masing-masing bagian mulai dari bagian persiapan, produksi/cetak dan penyelesaian/penjilidan.

2. Pelanggan menginginkan pelayanan yang cepat, kwalitas yang baik dan harga murah.

3. Permainan harga bahan, oleh penyalur atau toko.

4. Kurangnya volume pesanan, jumlah cetakan per order lebih sedikit.

Melihat kondisi demikian,untuk mengikuti persaingan harga yang harus kita lakukan adalah melakukan efisiensi produksi. Terlepas adanya penyalur bahan cetak melakukan permainan harga bahan, maka sebuah percetakan dengan mesin baru dan peralatan produksi yang lengkap mulai dari pra-cetak dan pos-cetak dalam satu atap unit produksi pasti akan lebih efisien dan produktif. Mesin cetak baru dengan sistim computer pasti lebih cepat dalam waktu proses dan banyak dalam jumlah produksi, sehingga biaya cetak perlembar akan ditekan.

Mengatasi persaingan keras
Ada 2 pilihan bisnis yang perlu diambil dalam mengahadapi bisnis yang sangat bersaing dan struktur yang berubah cepat seperti dalam percetakan saat ini. Pertama bertahan dengan melakukan efisiensi biaya dan produksi, efisiensi biaya dengan menekan ongkos bahan dan karyawan. Efisiensi produksi dengan melakukan penambahan keluaran cetak, baik dengan mencetak lebih banyak dalam satu periode atau menekan tingkat buangan (waste factor).

Kedua bergerak dinamis dengan melakukan investasi alat atau mesin baru yang pasti mempunyai tingkat efisiensi, produktifitas dan fleksibilitas tinggi. Dengan kata lain bisnis harus selalu tumbuh karena kalau tidak akan mati, bila bisnis anda tidak tumbuh dari tahun ketahun maka bisnis tersebut sebetulnya sekarat sebab pesaing sudah dan sedang mencuri order cetak anda, mengingat pasar eknonomi Indonesia tumbuh dengan tingkat 6.5%.

Keputusan investasi
Namun demikian melakukan investasi mesin baru perlu menjajaki besarnya biaya yang akan ditanam, Proses membeli mesin perlu perlu dilakukan dengan hati-hati dan pintar, seperti perbandingan antara mesin baru dan mesin bekas, perbandingan mesin yang bermerek dan yang belum terkenal, perbandingan mesin eropa dan china. Perbandingan ini merujuk pada mahal dan murahnya investasi awal, namun bila dalam jangka panjang akan membawa biaya operasi yang mahal maka pertimbangan awal yang mahal bisa menjadi murah sebab keandalan mesin yang dipakai.

Demikian pula sebaliknya, belum tentu mesin yang bersaing harganya tidak andal, jangan segan meminta demo cetak, menanyakan pelayanan purna jual, menguji keandalan sistim computer, meminta sertifikasi ISO atas mesin cetak. Sertifikasi ISO menujukkan bahwa manufaktur mempunyai sistim produksi dan pelayanan yang terorganisasi, bermetode dan standar operasi yang baku.